Jurusan : PAI V
B
Dosen
: Mansur Ulhab, M.Pd.I
RESUME
Kelompok III:
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM AS’ADIYAH FAKULTAS TARBIYAH SENGKANG TAHUN
PELAJARAN 2014/2015
A.
Perspektif Sosiologi dalam
Pendidikan Islam
Dalam displin ilmu Sosiologi Pendidikan Islam, terdapat berbagai
logika teoritis (pendekatan) yang dikembangkan sebagai perspektif utama
sosiologi yang seringkali digunakan sebagai landasan dalam melihat
fenomena pendidikan Islam di
masyarakat. yaitu: evolusionis, fungsionalis, interaksionis dan
konflik. Masing-masing perspektif itu memiliki karakteristik sendiri-sendiri
bahkan bisa jadi penggunaan perspektif yang berbeda dalam melihat suatu
fenomena pendidikan Islam akan
menghasilkan suatu hasil yang saling bertentangan. Pembahasan berikut ini akan
memaparkan bagaimana keempat perspektif tersebut dalam melihat fenomena pendidikan Islam yang terjadi di
masyarakat.
1.
Evolusionis
Perspektif ini memberikan keterangan yang
memuaskan tentang bagaimana masyarakat manusia tumbuh dan berkembang. Pandangan
seperti ini didasarkan pada karya Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Ibnu
Khaldun. Ibnu Khaldun memandang ilmu dan pendidikan sebagai suatu gejala
konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya didalam
tahapan kebudayaan, akal mendorong manusia untuk memiliki pengetahuan yang
penting baginya di dalam kehidupannya yang sederhana, lalu lahirlah ilmu
pengetahuan sejalan dengan perkembangan masa kemudian lahir pula pendidikan
sebagai akibat adanya kesenangan manusia dalam memahami dan mendalami
pegetahuan.[1]
2.
Fungsionalisme
Disebut juga teori strukturalisme fungsional. Fungsionalisme
merupakan teori yang menekankan bahwa unsur-unsur di dalam suatu masyarakat
atau kebudayaan itu saling bergantung dan menjadi kesatuan yang berfungsi
sebagai doktrin atau ajaran yang menekankan manfaat kepraktisan atau hubungan
fungsional.Dalam hal ini pendidikan Islam harus mempunyai fungsi, pendidikan Islam bukan ilusi, tetapi
merupakan fakta sosial yang dapat diidentifikasi dan mempunyai kepentingan
sosial.
3.
Konflik
Pendekatan ini terutama didasarkan pada
pemikiran Karl Marx. Teori konflik melihat masyarakat berada dalam konflik yang
terus-menerus di antara kelompok atau kelas. Selain Marx dan Hegel tokoh lain dalam
pendekatan konflik adalah Lews Coser. [2]Kata konflik diartikan sebagai percekcokan, perselisihan atau
pertentangan, teori konflik ini mengasumsikan bahwa masyarakat terdiri dari
kelompok yang memiliki kepentingan satu sama lain. Mereka selalu bersaing untuk
mewujudkan hasrat dan kepentingan mereka. Sehingga seringkali bermuara pada
terjadinya konflik antara satu komunitas masyarakat dengan komunitas lain. Menurut Lewis Coser, ketika
terjadi konflik antara satu komunitas dengan komunitas lain, hubungan di antara
anggota komunitas cenderung bersatu,
sekalipun sebelumnya terjadi konflik. Sebaliknya jika tidak ada konflik antar
komunitas, terdapat kecenderungan disintegrasi. Tidak ada rasa senasib, rasa
bersama, dan solidaritas antar anggota.
Pandangan ini mengkaji dari interaksi simbolik yang
terjadi di antara individu dan kelompok masyarakat. Tokoh yang menganut
pandangan interaksionis misalnya G.H Mead dan C. H Cooley. Mereka berpendapat
bahwa interaksi manusia berlangsung melalui serangkaian simbol yang mencakup
gerakan, tulisan, ucapan, gerakan tubuh, dan lain sebagainya. Pandangan ini
lebih mengarah pada studi individual atau kelompok kecil dalam suatu
masyarakat, bukan pada kelompok-kelompok besar atau institusi sosial. Interaksi
antara manusia satu dengan lainnya selalu mempunyai motif tertentu guna
memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan mereka masing-masing. Interaksi yang
berlangsung di sekitar kehidupan manusia dapat bernilai edukatif apabila interaksi
yang dilakukan dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan
perbuatan seseorang. Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia
pendidikan disebut sebagai interaksi edukatif. Dengan konsep di atas,
memunculkan istilah guru di satu pihak dan anak didik di lain pihak. Keduanya
berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas dan tanggung jawab yang
berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan. [3].
Shalat berjamaah secara sosiologis merupakan manifestasi
dari kebersamaan, solidaritas dan integritas sosial dalam kehidupan
bermasyarakat. Zakat manifestasi dari solidaritas sosial, rasa kemanusiaan yang
adil dan bertanggung jawab, kepedulian dan berempati terhadap penderitaan atau
kesusahan orang lain. Berpuasa merupakan upaya pengendalian diri dari tindakan
yang melampaui batas dan demikian pula pada aspek ajaran-ajaran Islam yang
lainnya. Pada rukun iman, misalnya iman kepada Allah akan memberikan kontrol
terhadap seorang muslim dalam kehidupan sosial masyarakat.
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara
mahkluk yang lain ciptaan allah SWT.Salah satu kelebihan yang di miliki oleh
manusia ialah diberi akal pikiran dan nafsu yang tidak dimiliki oleh malaikat,
jin dan binatang. Dengan akal inilah diharapkan manusia bisa menggelola bumi
ini dengan baik, untuk melakukan tugas yang berat tersebut maka manusia
membutuhkan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menyebabkan manusia menjadi objek
pendidikan,atau mahluk yang membutuhkan pendidikan sebagai mana yang terdapat
dalam Alquran. Dalam surah Al-baqorah ayat 31-32 yang artinya: Dan ingatlah ketika
allah berfirman kepada malaikat “aku hendak menjadi kan kholifah di bumi
“mereka berkata apakah engkau hendak menjadikan orang orang perusak dan
menumpahkan darah di muka bumi,sedangkan kami selalu bertasbih memuji
engkau”dia berfirman “sungguh aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui
. Dan dia mengajarkan nama –nama benda, kemudian dia perlihat kan kepada para
malaikat “kata kan lah jika kamu orang yang benar.(Al-Baqorah ayat 31-32
). Dari ayat tersebut kita memperoleh pengertian bahwa manusia adalah
mahluk yang bisa dididik dan diajar. Untuk meningkatkan kualitas hidup, manusia
memerlukan pendidikan, baik pendidikan yang formal, informal maupun nonformal.
Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang sekaligus
membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga belajar, tetapi
lebih ditentukan oleh instingnya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan
rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti.
B.
Intepretasi Sistem Sosial Pendidikan Islam
Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang
sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya,
pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan
yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul.
Dalam
hal ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian.
Pertama,
sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang
integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas
menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur
tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur
tersebut juga belum berfungsi secara benar.Buruknya pendidikan anak di rumah
memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di
tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, narkoba, dan
sebagainya. Pada saat yang sama, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat
nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan
sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi jika pendidikan yang diterima di
sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar
pendidikan tersebut.
Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai
dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Kurikulum sebagaimana tersebut di atas
dapat menjadi jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada
setiap jenjangnya.Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam
yang secara terus-menerus diberikan mulai dari tingkat TK hingga PT, muatan tsaqâfah
Islam dan Ilmu Kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan) diberikan
secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik
berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.Pada tingkat dasar atau
menjelang usia balig (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin
bersifat mendasar, umum, terpadu, dan merata bagi semua anak didik yang
mengikutinya.Khalifah Umar bin al-Khaththab, dalam wasiat yang dikirimkan
kepada gubernur-gubernurnya, menuliskan, “Sesudah itu, ajarkanlah kepada
anak-anakmu berenang dan menunggang kuda, dan ceritakan kepada mereka adab
sopan-santun dan syair-syair yang baik.”Khalifah Hisyam bin Abdul Malik
mewasiatkan kepada Sulaiman al-Kalb, guru anaknya, “Sesungguhnya anakku ini
adalah cahaya mataku. Saya mempercayaimu untuk mengajarnya. Hendaklah engkau
bertakwa kepada Allah dan tunaikanlah amanah. Pertama, saya mewasiatkan
kepadamu agar engkau mengajarkan kepadanya al-Qur’an, kemudian hapalkan
kepadanya al-Quran…”Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan asing
dapat disampaikan secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme atau
kapitalisme-sekularisme, misalnya, dapat diperkenalkan kepada kaum Muslim
setelah mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan
konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan,
melainkan untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya
dengan fitrah manusia.
Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam,
kepribadian Islam, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Ketiga hal di atas
merupakan target yang harus dicapai. Dalam implementasinya, ketiga hal diatas
menjadi orientasi dan panduan bagi pelaksanaan pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar